JT - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengingatkan pentingnya peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli sebagai tonggak reformasi di Indonesia.
Dalam acara wayangan bertajuk ‘Sumatri Ngenger’ yang digelar di Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam, Hasto menjelaskan bahwa Kudatuli melambangkan semangat juang dan keyakinan politik yang diajarkan oleh Soekarno, serta dukungan dari arus bawah dalam melawan pemerintahan Orde Baru yang otoriter.
Baca juga : Utang Luar Negeri Indonesia Turun Menjadi 405,7 Miliar Dolar AS pada Januari 2024
Hasto menegaskan bahwa meskipun peringatan ini digelar dengan rangkaian yang sama seperti sembilan tahun lalu, semangat perjuangan untuk setia pada konstitusi, demokrasi, dan ajaran Bung Karno tetap tidak berubah.
“Justru ketika serangan otoriter ditujukan kepada kita, semangat perjuangan kita itu terus menyala-nyala,” ujar Hasto.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua DPP PDIP Rano Karno, Ketua DPP PDIP Nusyirwan Soejono, dan Wakil Bendahara Umum PDIP Yuke Yurike, serta senior Partai Emir Moeis dan Dubes Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi.
Baca juga : DPR Lindungi Kepala BP2MI Benny Rhamdani untuk Ungkap Aktor Pengendali Judi Online
Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri turut menyaksikan pertunjukan wayang secara daring. Ratusan masyarakat di sekitar Lenteng Agung juga menunjukkan antusiasme tinggi dengan memenuhi bangku pengunjung. * * *
Bagikan